PENDEKATAN MELALUI PAGUYUBAN DAN SISTEM BANJAR
Di dalam orang bali terdapat kelompok - kelompok yang mengikat orang bali yang berdasarkan prinsip keturunan , namun ada pula dari kesatuan kesatuan wilayah yaitu desa . Kesatuan - kesatuan sosial serupa di perkuat oleh kesatuan dari upacara adat , dan keagamaan yang masih berlaku di masyarakat bali . Ada perbedaan yang tampak antara desa di pegunugan dengan adat istiadat di desa tanah darat , yang menjadi warga desa adat dam mendapatkan tempat duduk yang khas di balai desa yang di sebut Bale Agung , dan ia berhak untuk mengukuti rapat - rapat desa yang di adakan secara teratur pada hari - hari yang di tentukan .
Ada beberapa ciri - ciri pengayuban , di antaranya :
Menurut Ferdinand tones ciri-ciri pokok dari paguyuban antara lain :
1.Intimate : hubungan menyeluruh yang mesra
2.Private : hubungan bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja
3.Exclusive : bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk "kita" saja dan tidak untuk orang lain diluar "kita"
Sedangkan secara umum ciri - ciri paguyuban , yaitu :
1.Adanya hubungan perasaan kasih sayang
2.Adanya keinginan untuk meningkatkan kebersamaan
3.Tidak suka menojolkan diri
4.Selalu memegang teguh adat lama yang konservatif
5.Sifat gotong royong masih kuat
6.Hubungan kekeluargaan masih kental
Ada beberapa tipe pengayuban , yaitu :
Memiliki tiga tipe yang ada di masyarakat yaitu :
1.Paguyuban karena ikatan darah (Gemeinschaft by blood)
2.Paguyuban karena tempat (Gemeinschaft by place)
3.Paguyuban karena jiwa pikiran (Gemeinschaft by mind)
Senin, 29 November 2010
ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN KESEHATAN IBU
ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN KESEHATAN IBU
Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak prasekolah sehat.
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia selalu menjadi masalah pelik yang tak kunjung membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Situasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan menggembirakan.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan.
Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklampsia. Kedua sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih tetap rendah, di mana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.Usia kehamilan pertama ikut berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak (SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun.SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan pelayanan kontrasepsi.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum.
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan pada daerah dan tahun tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu,didaerahtertentu. Konstanta= 1000 bayi lahir hidup.
Sebab kematian ibu adalah :
•Perdarahan
•Hipertensi
•Infeksi
Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum, perdarahan berkaitan abortus, perdarahan akibat kehamilan ektopik, perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta), dan perdarahan karena ruptur uteri.
Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).
Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis, tromboflebitis dan bakteriemia.
Alasan menurunnya angka kematian ibu :
• Transfusi darah
• Anti mikroba
• Pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbangan asam-basa pada komplikasi- komplikasi serius kehamilan dan persalinan.
Aspek budaya di kalangan masyarakat terhadap kesehatan Ibu
Berikut budaya yang ada di beberapa daerah terhadap kesehatan ibu hamil :
1.Jawa Tengah :
•bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
2.Jawa Barat :
•ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
3.Masyarakat Betawi :
•berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
4.Daerah Subang :
•ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo,1993) .
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu , Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
Aspek sosial di kalangan masyarakat terhadap kesehatan Ibu
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.
Penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (kejang-kejang yangberlebihan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga.
Umumnya, terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.
Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.
Daftar Pustaka :
•Central Bureau of Statistics et al 1995 Indonesia DemograQhic and health Survey
•Departemen Kesehatan R.I 1994 Profil Kesehatan Indonesia 1994, Pusat Data Kesehatan, Jakarta
•Foster, George M dan Barbara G. Anderson 1986 Antropologi Kesehatan, diterjemahkan oleh Meutia F. Swasono dan Prijanti Pakan. Jakarta: UI Press
•Iskandar, Meiwita B., et al 1996 Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat, Depok, Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian, Universitas Indonesia.
•Kalangi, Nico S 1994 Kebudayaan dan Kesehatan, Jakarta: Megapoin.
•Koentjaraningrat dan A.A Loedin 1985 llmu-ilmu sosial dalam Pembangunan Kesehatan, Jakarta: PT Gramedia.
•Wibowo, Adik 1993 Kesehatan Ibu di Indonesia: Status "Praesens" dan Masalah yang dihadapi di lapangan. Makalah yang dibawakan pada Seminar " Wanita dan Kesehatan", Pusat Kaajian Wanita FISIP UI, di Jakarta
Diposkan oleh ILMU KEPERAWATAN di 19.35
Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak prasekolah sehat.
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia selalu menjadi masalah pelik yang tak kunjung membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Situasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan menggembirakan.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan.
Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklampsia. Kedua sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih tetap rendah, di mana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.Usia kehamilan pertama ikut berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak (SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun.SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan pelayanan kontrasepsi.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum.
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan pada daerah dan tahun tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu,didaerahtertentu. Konstanta= 1000 bayi lahir hidup.
Sebab kematian ibu adalah :
•Perdarahan
•Hipertensi
•Infeksi
Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum, perdarahan berkaitan abortus, perdarahan akibat kehamilan ektopik, perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta), dan perdarahan karena ruptur uteri.
Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).
Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis, tromboflebitis dan bakteriemia.
Alasan menurunnya angka kematian ibu :
• Transfusi darah
• Anti mikroba
• Pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbangan asam-basa pada komplikasi- komplikasi serius kehamilan dan persalinan.
Aspek budaya di kalangan masyarakat terhadap kesehatan Ibu
Berikut budaya yang ada di beberapa daerah terhadap kesehatan ibu hamil :
1.Jawa Tengah :
•bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
2.Jawa Barat :
•ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
3.Masyarakat Betawi :
•berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
4.Daerah Subang :
•ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo,1993) .
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu , Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
Aspek sosial di kalangan masyarakat terhadap kesehatan Ibu
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.
Penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (kejang-kejang yangberlebihan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga.
Umumnya, terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.
Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.
Daftar Pustaka :
•Central Bureau of Statistics et al 1995 Indonesia DemograQhic and health Survey
•Departemen Kesehatan R.I 1994 Profil Kesehatan Indonesia 1994, Pusat Data Kesehatan, Jakarta
•Foster, George M dan Barbara G. Anderson 1986 Antropologi Kesehatan, diterjemahkan oleh Meutia F. Swasono dan Prijanti Pakan. Jakarta: UI Press
•Iskandar, Meiwita B., et al 1996 Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat, Depok, Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian, Universitas Indonesia.
•Kalangi, Nico S 1994 Kebudayaan dan Kesehatan, Jakarta: Megapoin.
•Koentjaraningrat dan A.A Loedin 1985 llmu-ilmu sosial dalam Pembangunan Kesehatan, Jakarta: PT Gramedia.
•Wibowo, Adik 1993 Kesehatan Ibu di Indonesia: Status "Praesens" dan Masalah yang dihadapi di lapangan. Makalah yang dibawakan pada Seminar " Wanita dan Kesehatan", Pusat Kaajian Wanita FISIP UI, di Jakarta
Diposkan oleh ILMU KEPERAWATAN di 19.35
ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA SETIAP TRIMESTER KEHAMILAN
Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya , yang diawali dengan suatu ketidakpastian (ambivalent) pada kehamilannya dan berfokus hanya pada diri sendiri lalu lambat laun fokus tersebut mulai bergeser ke arah bagaimana ia dapat melindungi janin yang dikandungnya .
Gambaran dari ambivalensi di antaranya :
•Kebanyakan wanita menunjukan ambivalen terhadap kehamilannya
•Ada yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk hamil
•Sekalipun kehamilan diharapkan/direncanakan sering kali wanita mengatakan tidak berfikir akan hamil secepat itu
•Wanita merasa belum siap dengan kehamilannya
•Wanita sering ingin tidak hamil sampai tercapai suatu tujuan tertentu/bila rencananya sudah matang .
Ada bebereapa respon pada setiap trisemesternya , di antaranya :
1.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 1
Reaksi psikologis dan emosi yang biasanya timbul pada wanita terhadap kehamilan :
•Kecemasan
•Kegusaran
•Ketakutan
•Perasaan panik
Ada beberapa wanita menganggap bahwa kehamilan merupakan hal yang tidak menyenangkan , dan merupakan sebuahancama , kegawatan , bahkan menyebabkan ketakutan akan bahaya yang menimpa dirinya , sehingga tidak jarang ada beberapa wanita yang mengetahiu bahwa ia hamil tidak merasa senang , bahkan ada yang mencoba untuk membunuh diri dan janinnya .
2.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 2
Konsep abstrak kehamilan menjadi identifikasi nyata
•Perut menjadi membesar
•Gerakan janin terasa (quickening) dan gerakan ini merupakan peristiwa penting karena gerakan janin yang lembut ini menandakan bahwa kehidupan terjadi dalam rahim,
•Saat memeriksakan diri kepada bidan terdengar suara denyut jantung janin ataupun melihat janin bergerak-gerak saat melakukan USG ke dokter
•Wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan
•Wanita mulai memikirkan, janin merupakan bagian dari dirinya yang secara keseluruhan bergantung kepadanya sehingga wanita berusaha untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang janinnya, istirahat yang cukup dan lain-lain
•Sekarang wanita tersebut mengatakan “Saya akan mempunyai bayi” .
3.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 3
•Wanita sudah dapat menyesuaikan diri
•Kehidupan psikologik-emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan datang
•Pikiran dan perasaan akan tanggung jawab sebagai ibu yang akan mengurus anaknya .
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan terdiri dari 3 macam faktor antara lain :
1.Faktor fisik
Jadi faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut . Status kesehatan ini dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat , puskesmas , rumah bersalin , atau poliklinik kebidanan .
2.Faktor psikologis
Faktor ini dapat mempengaruhi kehamilan seperti stress yang terjadi pada ibu hamil dalam kesehatan ibu dan janinnya dan akan berpengaruh terhadap perkembangan atau gangguan emosi pada janin yang telah lahir nanti dan akan membuat janin merasa gelisah .
Tidak hanya stress yang dapat mempengaruhi kehamilan akan tetapi dukungan dari keluarga pun dapat menjadi pemicu menentukan kesehatan ibu . Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan bahkan mendukungnya dalam berbagai hal , maka ibu hamil tersebut akan merasa lebih percaya diri , lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan , persalinan , dan masa nifasnya .
3.Faktor sosial budaya dan ekonomi
Faktor ini pun mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup , adat istiadat , fasilitas kesehatan dan ekonomi . Gaya hidup yang sehat dapat dilakukan seperti menghindari asap rokok karena dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin yang dikandungnya . Perilaku makan juga harus diperhatikan , terutama yang berhubungan dengan adat istiadat seperti makanan ysng dipantang adat padahal baik untuk gizi ibu hamil , maka sebaiknya tetap dikonsumsi . Ibu hamil juga harus menjaga kebersihan dirinya .
Ekonomi juga merupakan faktor yang mempengaruhi proses kehamilan yang sehat terhadap ibu dan janin . Dengan adanya ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin , merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik , maka proses kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan baik .
Daftar Pustaka :
•Posted in kehamilan, psikologi kebidanan
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/05/proses-adaptasi-ibu- hamil/
•http://miamisland.blogspot.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pd-setiap.html
Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya , yang diawali dengan suatu ketidakpastian (ambivalent) pada kehamilannya dan berfokus hanya pada diri sendiri lalu lambat laun fokus tersebut mulai bergeser ke arah bagaimana ia dapat melindungi janin yang dikandungnya .
Gambaran dari ambivalensi di antaranya :
•Kebanyakan wanita menunjukan ambivalen terhadap kehamilannya
•Ada yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk hamil
•Sekalipun kehamilan diharapkan/direncanakan sering kali wanita mengatakan tidak berfikir akan hamil secepat itu
•Wanita merasa belum siap dengan kehamilannya
•Wanita sering ingin tidak hamil sampai tercapai suatu tujuan tertentu/bila rencananya sudah matang .
Ada bebereapa respon pada setiap trisemesternya , di antaranya :
1.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 1
Reaksi psikologis dan emosi yang biasanya timbul pada wanita terhadap kehamilan :
•Kecemasan
•Kegusaran
•Ketakutan
•Perasaan panik
Ada beberapa wanita menganggap bahwa kehamilan merupakan hal yang tidak menyenangkan , dan merupakan sebuahancama , kegawatan , bahkan menyebabkan ketakutan akan bahaya yang menimpa dirinya , sehingga tidak jarang ada beberapa wanita yang mengetahiu bahwa ia hamil tidak merasa senang , bahkan ada yang mencoba untuk membunuh diri dan janinnya .
2.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 2
Konsep abstrak kehamilan menjadi identifikasi nyata
•Perut menjadi membesar
•Gerakan janin terasa (quickening) dan gerakan ini merupakan peristiwa penting karena gerakan janin yang lembut ini menandakan bahwa kehidupan terjadi dalam rahim,
•Saat memeriksakan diri kepada bidan terdengar suara denyut jantung janin ataupun melihat janin bergerak-gerak saat melakukan USG ke dokter
•Wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan
•Wanita mulai memikirkan, janin merupakan bagian dari dirinya yang secara keseluruhan bergantung kepadanya sehingga wanita berusaha untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang janinnya, istirahat yang cukup dan lain-lain
•Sekarang wanita tersebut mengatakan “Saya akan mempunyai bayi” .
3.RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 3
•Wanita sudah dapat menyesuaikan diri
•Kehidupan psikologik-emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan datang
•Pikiran dan perasaan akan tanggung jawab sebagai ibu yang akan mengurus anaknya .
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan terdiri dari 3 macam faktor antara lain :
1.Faktor fisik
Jadi faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut . Status kesehatan ini dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat , puskesmas , rumah bersalin , atau poliklinik kebidanan .
2.Faktor psikologis
Faktor ini dapat mempengaruhi kehamilan seperti stress yang terjadi pada ibu hamil dalam kesehatan ibu dan janinnya dan akan berpengaruh terhadap perkembangan atau gangguan emosi pada janin yang telah lahir nanti dan akan membuat janin merasa gelisah .
Tidak hanya stress yang dapat mempengaruhi kehamilan akan tetapi dukungan dari keluarga pun dapat menjadi pemicu menentukan kesehatan ibu . Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan bahkan mendukungnya dalam berbagai hal , maka ibu hamil tersebut akan merasa lebih percaya diri , lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan , persalinan , dan masa nifasnya .
3.Faktor sosial budaya dan ekonomi
Faktor ini pun mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup , adat istiadat , fasilitas kesehatan dan ekonomi . Gaya hidup yang sehat dapat dilakukan seperti menghindari asap rokok karena dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin yang dikandungnya . Perilaku makan juga harus diperhatikan , terutama yang berhubungan dengan adat istiadat seperti makanan ysng dipantang adat padahal baik untuk gizi ibu hamil , maka sebaiknya tetap dikonsumsi . Ibu hamil juga harus menjaga kebersihan dirinya .
Ekonomi juga merupakan faktor yang mempengaruhi proses kehamilan yang sehat terhadap ibu dan janin . Dengan adanya ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin , merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik , maka proses kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan baik .
Daftar Pustaka :
•Posted in kehamilan, psikologi kebidanan
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/05/proses-adaptasi-ibu- hamil/
•http://miamisland.blogspot.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pd-setiap.html
Aspek Sosial Budaya Pada Setiap Perkawinan
Aspek Sosial Budaya Pada Setiap Perkawinan
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan , hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit , kebiasaan dan ketidaktahuan , seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak . Pola makan , misalnya , pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar . Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu , termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan , tabu , dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu .
Pada aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap , yakni di antaranya :
1. Pada fase pertama adalah bulan madu pasangan masih menjalani hidup dengan penuh kebahagian , dan hal itu karena didasari rasa cinta diawal perkawinan . Pada fase pengenalan kenyataan , pasangan mengetahui karakteristik dan kebiasaan yang sebenarnya dari pasangan .
2. Pada fase kedua mulai terjadi krisis perkawinan terjadi proses penyesuaian akan adanya perbedaan yang terjadi . Apabila sukses dalam menerima kenyataan maka akan dilanjutkan dengan suksesnya fase menerima kenyataan . Apabila pasangan sukses mengatasi problema keluarga dengan berapatasi dan membuat aturan dan kesepakatan dalam rumah tangga maka fase kebahagiaan sejati akan diperolehnya.
Menurut faktor pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam hal saling memberi dan menerima cinta , ekspresi afeksi , saling menghormati dan menghargai , saling terbuka antara suami istri . Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan pola-pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri , serta kemampuan menghadapi dan menyikapi perbedaan yang muncul , sehingga kebahagiaan dalam hidup berumah tangga akan tercapai .
Ada beberapa contoh mitros yang beredar di kalangan masyarakat di antaranya :
Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah , ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak . Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat , ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan . Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin . Contoh lain di daerah Subang , ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan . Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah . Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi.
Daftar Pustaka :
•http://miamisland.blogspot.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pd-setiap.html
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan , hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit , kebiasaan dan ketidaktahuan , seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak . Pola makan , misalnya , pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar . Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu , termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan , tabu , dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu .
Pada aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap , yakni di antaranya :
1. Pada fase pertama adalah bulan madu pasangan masih menjalani hidup dengan penuh kebahagian , dan hal itu karena didasari rasa cinta diawal perkawinan . Pada fase pengenalan kenyataan , pasangan mengetahui karakteristik dan kebiasaan yang sebenarnya dari pasangan .
2. Pada fase kedua mulai terjadi krisis perkawinan terjadi proses penyesuaian akan adanya perbedaan yang terjadi . Apabila sukses dalam menerima kenyataan maka akan dilanjutkan dengan suksesnya fase menerima kenyataan . Apabila pasangan sukses mengatasi problema keluarga dengan berapatasi dan membuat aturan dan kesepakatan dalam rumah tangga maka fase kebahagiaan sejati akan diperolehnya.
Menurut faktor pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam hal saling memberi dan menerima cinta , ekspresi afeksi , saling menghormati dan menghargai , saling terbuka antara suami istri . Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan pola-pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri , serta kemampuan menghadapi dan menyikapi perbedaan yang muncul , sehingga kebahagiaan dalam hidup berumah tangga akan tercapai .
Ada beberapa contoh mitros yang beredar di kalangan masyarakat di antaranya :
Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah , ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak . Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat , ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan . Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin . Contoh lain di daerah Subang , ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan . Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah . Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi.
Daftar Pustaka :
•http://miamisland.blogspot.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pd-setiap.html
Minggu, 28 November 2010
Aspek Sosial Budaya Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Anak
ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN ANAK
Tak dapat kita pungkiri bahwa indonesia masih sangat memperhatinkam masalah yang berhubungan dengan kesehatan anak . Banyak sekali anak anak penerus bangsa yang meninggal dengan sangat menyedihkan , diantaranya kurangnya asupan makanan yang di butuhkan sehingga dapat menyebabkan kekurangan gizi , busung lapar , yang begitu menyayat hati adalah bahwa anak adalah anak penerus bangsa yang seharusnya di jaga , di rawat dengan memberikan asupan yang di butuhkan .
Walaupun perkembangan teknologi yang begitu pesat , namun tidak membuat masyarakat tergoyah akan pegangannya yang sudah mereka percayai secara turun temurun , terutama tentang kesehatan anak yang terkadang ada yang bertolak belakang dengan nasihat yang di berikan oleh para medis yang sebenarnya menjadi salah satupenghambat kesehatan anak .
Mitos – mitos yang berkembang di masyarakat diantara lain misalnya :
• Misalnya jika rambut anak basah maka anak anda akan masuk angin
Padahal faktanya , salah seorang pakar kesehatan mengatakan dari riset yang dilakukan dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam , kelompok yang berada di lorong tidak mengalami pilek atau flu , jadi ” kedinginan belum tentu mempengaruhi system kekebalan secara langsung ” .
• Pada saat ibu menyusui bayinya , akan mengeluarkan cairan yang berwarna sedikit kekuningan , pada beberapa mitos yang berkembang , cairan tersebut merupan susu basi yang di produksi oleh ibu . Padahal sebenarnya cairan yang berwarna sedikit tersebut memiliki kandungan zat yang di perlukan oleh bayi .
• Anak akan kehilangan 75% panas tubuh melalui kepala .
Mitos macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin . Hal ini dibenarkan , karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya . Akan tetapi , ketika sudah besar , keluarnya panas melalui kepala kepala hanya 10% , sisanya panas tubuh keluar melalui kaki , lengan dan tangan .
• Pemberian Vitamin secara paksa agar nafsu makan anak akan bertambah , padahal pemberian vitamin pada anak memang di anjurkan namun tetap melihat berapa umur anak tersebut agar dapat melihat dosis yang cocok untuk anak tersebut , namun dengan pemberian vitamin terlalu banyak dapat menyebabkan luka pada lambungnya , apalagi bila anak tersebut makan dengan tidak teratur , maka akan menimbulkan rasa perih pada perutnya dan membuat anak tersebut tidak nafsu makan . Jadi berilah vitamin pada anak yang cukup , tidak terlalu banyak dan tidak juga kurang .
• Pemberian Vitamin tidaklah terlalu penting inilah yang berkembang di beberapa masyarakat , karena vitamin tersebut tidak berfungsi bagi anak mereka , karena mereka berasumsi vitamin tersebut tidak bekerja pada anak mereka , padahal vitamin bekerja dalam jangka yang pendek , tapi bekerja secara bertahap , dan hal inilah yang tidak di ketehui oleh mereka .
Daftar Pustaka :
• http://kandrawilko.blogspot.com/2009/01/persepsi-sosial-dan-budaya-kesehatan.html
Tak dapat kita pungkiri bahwa indonesia masih sangat memperhatinkam masalah yang berhubungan dengan kesehatan anak . Banyak sekali anak anak penerus bangsa yang meninggal dengan sangat menyedihkan , diantaranya kurangnya asupan makanan yang di butuhkan sehingga dapat menyebabkan kekurangan gizi , busung lapar , yang begitu menyayat hati adalah bahwa anak adalah anak penerus bangsa yang seharusnya di jaga , di rawat dengan memberikan asupan yang di butuhkan .
Walaupun perkembangan teknologi yang begitu pesat , namun tidak membuat masyarakat tergoyah akan pegangannya yang sudah mereka percayai secara turun temurun , terutama tentang kesehatan anak yang terkadang ada yang bertolak belakang dengan nasihat yang di berikan oleh para medis yang sebenarnya menjadi salah satupenghambat kesehatan anak .
Mitos – mitos yang berkembang di masyarakat diantara lain misalnya :
• Misalnya jika rambut anak basah maka anak anda akan masuk angin
Padahal faktanya , salah seorang pakar kesehatan mengatakan dari riset yang dilakukan dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam , kelompok yang berada di lorong tidak mengalami pilek atau flu , jadi ” kedinginan belum tentu mempengaruhi system kekebalan secara langsung ” .
• Pada saat ibu menyusui bayinya , akan mengeluarkan cairan yang berwarna sedikit kekuningan , pada beberapa mitos yang berkembang , cairan tersebut merupan susu basi yang di produksi oleh ibu . Padahal sebenarnya cairan yang berwarna sedikit tersebut memiliki kandungan zat yang di perlukan oleh bayi .
• Anak akan kehilangan 75% panas tubuh melalui kepala .
Mitos macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin . Hal ini dibenarkan , karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya . Akan tetapi , ketika sudah besar , keluarnya panas melalui kepala kepala hanya 10% , sisanya panas tubuh keluar melalui kaki , lengan dan tangan .
• Pemberian Vitamin secara paksa agar nafsu makan anak akan bertambah , padahal pemberian vitamin pada anak memang di anjurkan namun tetap melihat berapa umur anak tersebut agar dapat melihat dosis yang cocok untuk anak tersebut , namun dengan pemberian vitamin terlalu banyak dapat menyebabkan luka pada lambungnya , apalagi bila anak tersebut makan dengan tidak teratur , maka akan menimbulkan rasa perih pada perutnya dan membuat anak tersebut tidak nafsu makan . Jadi berilah vitamin pada anak yang cukup , tidak terlalu banyak dan tidak juga kurang .
• Pemberian Vitamin tidaklah terlalu penting inilah yang berkembang di beberapa masyarakat , karena vitamin tersebut tidak berfungsi bagi anak mereka , karena mereka berasumsi vitamin tersebut tidak bekerja pada anak mereka , padahal vitamin bekerja dalam jangka yang pendek , tapi bekerja secara bertahap , dan hal inilah yang tidak di ketehui oleh mereka .
Daftar Pustaka :
• http://kandrawilko.blogspot.com/2009/01/persepsi-sosial-dan-budaya-kesehatan.html
Aspek Sosial Budaya pada Masa Nifas
Aspek Sosial Budaya Dasar Pada Masa Nifas
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia . Sedangkan kata Sosial berasal dari bahasa latin Societas yang berarti hubungan sahabat lain , dan dapat di artikan dengan hubungan sesama manusia , jadi setiap anggotanya memiliki perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama .
Sedangkan arti sederhana dari Masa Nifas merupakan masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya enam minggu , jadi masa nifas itu sendiri merupakan masa di mana bagian dalam rahim ibu akan memulih .
Berbagai macam Aspek Sosial Budaya Pada Masa Nifas , diantaranya :
• Pada ibu yang sedang masa nifas dilarang makan telur , daging , udang , ikan laut,nanas , dan makanan yang berminyak .
dampak negative akan dilarangnya mengkonsumsi telur , daging , udang , ikan laut , nanas , dan makanan yang berminyak adalah dapat merugikan karena pada masa nifas ibu membutuhkan makanan yang bergizi seimbang agar ibu dan bayi menjadi sehat dan dampak positif dari larangan ini tidak ada , karena seharusnya ibu mengkonsumsi telur , ikan karena baik untuk hasil produksi susu ibu bagi bayinya .
• Pada masa nifas, ibu dilarang tidur siang .
Adapun dampak negative dari dilarangnya seorang ibu tidur siang, ibu menjadi kurang istirahat sedangkan pada masa ini seorang ibu harus cukup istirahat dan mengurangi kerja berat , selain itu ibu pun harus makan yang teratur , karena saat masa nifas ibu bukan hanya memberikan vitamin atau pun zat lainnya untuk tubuh , tapi ibu pun memberikan asupan untuk bayinya dengan menyusui .
• Selama masa nifas ibu hanya boleh mengkonsumsi tahu dan tempe tanpa rasa (tanpa di beri rasa atau di beri garam) , selain itu ibu pun di larang untuk banyak makan dan banyak minum , bahkan ada yang beredar bahwa bila ibu ingin makan harus di sangrai terlebih dahulu sebelum di konsumsi . Padahal seharusnya ibu memakan makanan yang sehat karena akan mempercepat penyembukan pada kandung ibu .
• Pada masa nifas dan saat menyusui , ibu harus puasa , tidak makan makanan yang padat setelah waktu maghrib .
Hal ini dibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib dapat menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak , namun terdapat dampak negatifnya yaitu ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadi berkurang
• Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.
Hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir (pemberian imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaitu umur 0 - 7 hari dan 8 - 30 hari .
• Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat atau diurut , diberi pilis atau lerongan dan tapel .
Dalam hal ini jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadi lancar namun jika pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan . Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat atau menyebabkan alergi .
• Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air , disaring , dicampur garam dan asam diminumkan supaya ASI banyak.
• Dalam hal ini sama sekali tidak memiliki dampak yang positif karena abu , dan asam tidak mengandung zat yang di gunakan ibu untuk memproduksi ASInya , dan abu serta asam ini tidak mempengaruhi ibu untuk memproduksi ASInya lebih banyak.
• Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim
Dari sisi medis , sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan . Alasannya , aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan jalan lahir maupun involusi rahim , yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula Contohnya infeksi atau akan perdarahan ataupun pengaruh psikologis , kekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi .
• Adapun sosial budaya yang terjadi pada kalangan masyarakat , contoh lainnya adalah seorang ibu yang ingin keluar rumah harus memakai sendal jepit selama 40 hari selama masa nifas .
• Kemudian harusd smeminum jamu , agar rahim ibu cepai memulih . Padahalksebenarnya , tidak harus meminum jamu pun rahim ibu akan memulih , hanya dengan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi .
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia . Sedangkan kata Sosial berasal dari bahasa latin Societas yang berarti hubungan sahabat lain , dan dapat di artikan dengan hubungan sesama manusia , jadi setiap anggotanya memiliki perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama .
Sedangkan arti sederhana dari Masa Nifas merupakan masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya enam minggu , jadi masa nifas itu sendiri merupakan masa di mana bagian dalam rahim ibu akan memulih .
Berbagai macam Aspek Sosial Budaya Pada Masa Nifas , diantaranya :
• Pada ibu yang sedang masa nifas dilarang makan telur , daging , udang , ikan laut,nanas , dan makanan yang berminyak .
dampak negative akan dilarangnya mengkonsumsi telur , daging , udang , ikan laut , nanas , dan makanan yang berminyak adalah dapat merugikan karena pada masa nifas ibu membutuhkan makanan yang bergizi seimbang agar ibu dan bayi menjadi sehat dan dampak positif dari larangan ini tidak ada , karena seharusnya ibu mengkonsumsi telur , ikan karena baik untuk hasil produksi susu ibu bagi bayinya .
• Pada masa nifas, ibu dilarang tidur siang .
Adapun dampak negative dari dilarangnya seorang ibu tidur siang, ibu menjadi kurang istirahat sedangkan pada masa ini seorang ibu harus cukup istirahat dan mengurangi kerja berat , selain itu ibu pun harus makan yang teratur , karena saat masa nifas ibu bukan hanya memberikan vitamin atau pun zat lainnya untuk tubuh , tapi ibu pun memberikan asupan untuk bayinya dengan menyusui .
• Selama masa nifas ibu hanya boleh mengkonsumsi tahu dan tempe tanpa rasa (tanpa di beri rasa atau di beri garam) , selain itu ibu pun di larang untuk banyak makan dan banyak minum , bahkan ada yang beredar bahwa bila ibu ingin makan harus di sangrai terlebih dahulu sebelum di konsumsi . Padahal seharusnya ibu memakan makanan yang sehat karena akan mempercepat penyembukan pada kandung ibu .
• Pada masa nifas dan saat menyusui , ibu harus puasa , tidak makan makanan yang padat setelah waktu maghrib .
Hal ini dibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib dapat menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak , namun terdapat dampak negatifnya yaitu ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadi berkurang
• Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.
Hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir (pemberian imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaitu umur 0 - 7 hari dan 8 - 30 hari .
• Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat atau diurut , diberi pilis atau lerongan dan tapel .
Dalam hal ini jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadi lancar namun jika pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan . Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat atau menyebabkan alergi .
• Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air , disaring , dicampur garam dan asam diminumkan supaya ASI banyak.
• Dalam hal ini sama sekali tidak memiliki dampak yang positif karena abu , dan asam tidak mengandung zat yang di gunakan ibu untuk memproduksi ASInya , dan abu serta asam ini tidak mempengaruhi ibu untuk memproduksi ASInya lebih banyak.
• Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim
Dari sisi medis , sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan . Alasannya , aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan jalan lahir maupun involusi rahim , yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula Contohnya infeksi atau akan perdarahan ataupun pengaruh psikologis , kekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi .
• Adapun sosial budaya yang terjadi pada kalangan masyarakat , contoh lainnya adalah seorang ibu yang ingin keluar rumah harus memakai sendal jepit selama 40 hari selama masa nifas .
• Kemudian harusd smeminum jamu , agar rahim ibu cepai memulih . Padahalksebenarnya , tidak harus meminum jamu pun rahim ibu akan memulih , hanya dengan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi .
Aspek sosial Budaya pada Bayi Baru Lahir
Aspek Sosial Budaya pada Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm ( 37 - 42 minggu ) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram . Bayi yang lahirnya normal sangatlah di harapkan oelh siapa saja , baik ibu , suami , dan juga keluarga , karena baik yang lahir dengan normal biasanya memiliki daya tahan tubuh yang lebih dari pada bayi yang lahir dengan cara cecar . Selain lahir pada sembilan bulan bayi normal pun memiliki kriteria yang berbeda dengan anak yang tidak dengan lahir dengan normal ( di keluarkan dengan cara di cecar karena memiliki masalah , dan juga lahir sebelum waktunya ( misalnya seharusnya sembilan bulan tapi lahir pada tujuh bulan , yang biasa di sebut prematur ) .
Ciri-ciri bayi normal antara lain diantaranya :
a) Berat badan 2500-4000 gram
b) Panjang badan 48-52 cm
c) Lingkar badan 30-38 cm
d) Lingkar kepala 33-35 cm
e) Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 180 x/menit kemudian menurun sampai 120-160 x/menit
f) Pernafasan pada menit pertama kira-kira 80 x/menit kemudian turunsampai 40 x/menit
g) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan terbentuk terbentuk dan diliputi verniks caeseosa
h) Rambut lanugo tidak terlihat , rambut tampak sempurna
i) Kuku agak panjang dan lemas
j) Testis sudah turun (pada anak laki-laki) , genitalia labio mayora telah C menutupi labia minora ( pada anak perempuan )
k) Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l) Refleks moro sudah baik , bayi dikagetkan akan memperlihatkan
gerakan tangan seperti memeluk
m) Graff refleks sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan maka akan menggenggam .
Defenisi BBLR ( Bayi Baru Lahir Normal ) pada kongres EUROPEAN PERINATAL MEDICINE II di London tahun 1970 , sebagai berikut :
1.Bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 minggu (249 hari)
2.Bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 sampai empat puluh dua minggu (259 sampai 293 hari)
3.Bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).
Pelayanan kesehatan pada bayi dalam kandungan sangatlah penting , selain untuk mengetahui perkembangan dari janin , juga memperhitungkan kapan bayi tersebut akan lahir . pertumbuhan janin sangatlah di pengaruhi oleh ibunya , misalnya ibu tersebut rajin dalam memeriksakan kandungan , maka mungkin bayi tersebut bila ada sesuatu yang masalah akan segera cepat di tangani secara dini , maka masalah tersebut tidak begitu fatal di alami oleh bayi terserbut .
Bayi dengan berat yang lahir rendah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah :
1.Faktor-faktor yang berkaitan dengan ibu seperti: umur ibu , umur kehamilan , paritos , berat badan dan tinggi badan , status gizi (nutrisi) , anemia , kebiasaan minum alkohol dan merokok , penyakit-penyakit keadaan tertentu waktu hamil (misalnya anemia , pendarahan dan lain-lain) , jarak kehamilan , kehamilan ganda , riwayat abortus .
2.Faktor janin meliputi kehamilan kembar dan kelainan bawaan ( kelainan yang terjadi di dalam rahim ) .
3.Faktor lingkungan seperti pendidikan dan pengetahuan ibu , pekerjaan , dan status sosial ekonomi dan budaya yang berlaku pada lingkungann yang di tempati oleh ibu .
4.Pelayanan kesehatan ( antenatal cores ) , jadi kurangnya melakukan pemeriksaan terhadap kandungan ( janin ) .
Terkadang mitos yang berkembang untuk bayi yang baru lahir ada yang brsifat positif namun tak sedikit pula yang bersifat negatif , hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang merawat bayi baru lahir dan kurangnya penyuluhan yang di adakan di tempat tersebut .
Adapun beberapa contoh mitos merawat bayi yang beru lahir yang berkembang dan berlaku pada masyarakat , di antaranya :
•Dibedong agar kaki tidak bengkok
Dalam hal ini , hampir setiap bayi memiliki kaki yang tampak bengkok , begitulah kaki bayi . Ini disebabkan karena bayi tersebut masih terbiasa dengan posisi meringkuk ketika masih berada didalam rahim , namun dengan seiring berjalannnya waktu , kakinya akan lurus dengan sendirinya .
Padahal pada kenyataannya , dibedong dapat menggangu perdedaran darah bayi . Jantungnya akan terpaksa bekerja lebih berat untuk memompa darah karena tubuhnya lipat oleh kain yang terlalu berat . Bahkan , ini dapat memberi resiko membahayakan tulang panggul , dapat menyebabkan dislokasi ( kesalahan penempatan ) panggul dan paha . namun ada juga dari beberapa ibu yang membedong bayi untuk melindungi dari dingin , baik karena faktor cuaca atau setelah mandi . Sebenarnya baju lengan panjang dan celana panjang pun sudah cukup untuk menghangatkan tubuh bayi .
•Hidung ditarik-tarik agar mancung
Tidak ada hubungannya menarik hidung dapat membuat mancung hidung , semua tergantung dari bentuk tulang hidungnya dan itu sudah menjadi bawaan (terjadi di dalam rahim maupun merupakan sifat keturunan ) .
•Pemakaian gurita agar tidak kembung
Bayi bernapas dengan otot-otot pada perutnya . Jadi, memasangkan gurita justru akan manghambat pernapasannya , jadi bentuk perut bayi yang kembung memang merupakan bentuk alamiah yang terjadi pada bayi yang baru lahir , seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan , maka perutnya akan berbentuk seperti normal , ( kecuali memang terjadi suatu kelainan , misalnya mempunyai penyakit busung lapar ) . Jika memang harus memakaikan gurita jangan mengikat terlalu kencang terutama di bagian dada agar jantung dan paru-parunya agar dapat berkembang dengan baik , dan jika tujuannya supaya pusar tidak bodong sebaiknya di pakaikan hanya di pusar dan ikatannya pun tidak terlalu kencang .
•Mengoleskan cabai mereh ke pipi bayi
Agar bayi tersebut memiliki lesung pipit , padahal sebenarnya , lesung pipit akan keluar dengan sendirinya , bila memang ada (keturunan) .
•Dagu bayi di garisi oleh korek api
Pada mitos ini di percaya agar dagu bayi dapat membelah , padahal tidak berpengaruh sekali .
•ASI pertama yang berwarna kekuningan merupakan ASI yang sudah basi dan tidak baik dikonsumsi bayi
ASI pertama adalah kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh dan kaya akan protein . Warna dan penampilan ASI putih keruh serta encer sering pula diasumsikan sebagai ASI kualitas jelek . Warna dan kejernihan ASI sangat tergantung bahan nutrien yang terkandung di dalamnya .
Daftar Pustaka :
•http://wanipintar.blogspot.com/2009/06/aspek-sosial-budaya-dasar-pada-bayi.html
Diunduh pada tanggal 14 Oktober 2010
•http://baca-dulu-ah.blogspot.com/2009/10/mitos-bayi-baru-lahir.html
Diunduh pada tanggal 14 Oktober 2010
Bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm ( 37 - 42 minggu ) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram . Bayi yang lahirnya normal sangatlah di harapkan oelh siapa saja , baik ibu , suami , dan juga keluarga , karena baik yang lahir dengan normal biasanya memiliki daya tahan tubuh yang lebih dari pada bayi yang lahir dengan cara cecar . Selain lahir pada sembilan bulan bayi normal pun memiliki kriteria yang berbeda dengan anak yang tidak dengan lahir dengan normal ( di keluarkan dengan cara di cecar karena memiliki masalah , dan juga lahir sebelum waktunya ( misalnya seharusnya sembilan bulan tapi lahir pada tujuh bulan , yang biasa di sebut prematur ) .
Ciri-ciri bayi normal antara lain diantaranya :
a) Berat badan 2500-4000 gram
b) Panjang badan 48-52 cm
c) Lingkar badan 30-38 cm
d) Lingkar kepala 33-35 cm
e) Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 180 x/menit kemudian menurun sampai 120-160 x/menit
f) Pernafasan pada menit pertama kira-kira 80 x/menit kemudian turunsampai 40 x/menit
g) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan terbentuk terbentuk dan diliputi verniks caeseosa
h) Rambut lanugo tidak terlihat , rambut tampak sempurna
i) Kuku agak panjang dan lemas
j) Testis sudah turun (pada anak laki-laki) , genitalia labio mayora telah C menutupi labia minora ( pada anak perempuan )
k) Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l) Refleks moro sudah baik , bayi dikagetkan akan memperlihatkan
gerakan tangan seperti memeluk
m) Graff refleks sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan maka akan menggenggam .
Defenisi BBLR ( Bayi Baru Lahir Normal ) pada kongres EUROPEAN PERINATAL MEDICINE II di London tahun 1970 , sebagai berikut :
1.Bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 minggu (249 hari)
2.Bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 sampai empat puluh dua minggu (259 sampai 293 hari)
3.Bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).
Pelayanan kesehatan pada bayi dalam kandungan sangatlah penting , selain untuk mengetahui perkembangan dari janin , juga memperhitungkan kapan bayi tersebut akan lahir . pertumbuhan janin sangatlah di pengaruhi oleh ibunya , misalnya ibu tersebut rajin dalam memeriksakan kandungan , maka mungkin bayi tersebut bila ada sesuatu yang masalah akan segera cepat di tangani secara dini , maka masalah tersebut tidak begitu fatal di alami oleh bayi terserbut .
Bayi dengan berat yang lahir rendah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah :
1.Faktor-faktor yang berkaitan dengan ibu seperti: umur ibu , umur kehamilan , paritos , berat badan dan tinggi badan , status gizi (nutrisi) , anemia , kebiasaan minum alkohol dan merokok , penyakit-penyakit keadaan tertentu waktu hamil (misalnya anemia , pendarahan dan lain-lain) , jarak kehamilan , kehamilan ganda , riwayat abortus .
2.Faktor janin meliputi kehamilan kembar dan kelainan bawaan ( kelainan yang terjadi di dalam rahim ) .
3.Faktor lingkungan seperti pendidikan dan pengetahuan ibu , pekerjaan , dan status sosial ekonomi dan budaya yang berlaku pada lingkungann yang di tempati oleh ibu .
4.Pelayanan kesehatan ( antenatal cores ) , jadi kurangnya melakukan pemeriksaan terhadap kandungan ( janin ) .
Terkadang mitos yang berkembang untuk bayi yang baru lahir ada yang brsifat positif namun tak sedikit pula yang bersifat negatif , hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang merawat bayi baru lahir dan kurangnya penyuluhan yang di adakan di tempat tersebut .
Adapun beberapa contoh mitos merawat bayi yang beru lahir yang berkembang dan berlaku pada masyarakat , di antaranya :
•Dibedong agar kaki tidak bengkok
Dalam hal ini , hampir setiap bayi memiliki kaki yang tampak bengkok , begitulah kaki bayi . Ini disebabkan karena bayi tersebut masih terbiasa dengan posisi meringkuk ketika masih berada didalam rahim , namun dengan seiring berjalannnya waktu , kakinya akan lurus dengan sendirinya .
Padahal pada kenyataannya , dibedong dapat menggangu perdedaran darah bayi . Jantungnya akan terpaksa bekerja lebih berat untuk memompa darah karena tubuhnya lipat oleh kain yang terlalu berat . Bahkan , ini dapat memberi resiko membahayakan tulang panggul , dapat menyebabkan dislokasi ( kesalahan penempatan ) panggul dan paha . namun ada juga dari beberapa ibu yang membedong bayi untuk melindungi dari dingin , baik karena faktor cuaca atau setelah mandi . Sebenarnya baju lengan panjang dan celana panjang pun sudah cukup untuk menghangatkan tubuh bayi .
•Hidung ditarik-tarik agar mancung
Tidak ada hubungannya menarik hidung dapat membuat mancung hidung , semua tergantung dari bentuk tulang hidungnya dan itu sudah menjadi bawaan (terjadi di dalam rahim maupun merupakan sifat keturunan ) .
•Pemakaian gurita agar tidak kembung
Bayi bernapas dengan otot-otot pada perutnya . Jadi, memasangkan gurita justru akan manghambat pernapasannya , jadi bentuk perut bayi yang kembung memang merupakan bentuk alamiah yang terjadi pada bayi yang baru lahir , seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan , maka perutnya akan berbentuk seperti normal , ( kecuali memang terjadi suatu kelainan , misalnya mempunyai penyakit busung lapar ) . Jika memang harus memakaikan gurita jangan mengikat terlalu kencang terutama di bagian dada agar jantung dan paru-parunya agar dapat berkembang dengan baik , dan jika tujuannya supaya pusar tidak bodong sebaiknya di pakaikan hanya di pusar dan ikatannya pun tidak terlalu kencang .
•Mengoleskan cabai mereh ke pipi bayi
Agar bayi tersebut memiliki lesung pipit , padahal sebenarnya , lesung pipit akan keluar dengan sendirinya , bila memang ada (keturunan) .
•Dagu bayi di garisi oleh korek api
Pada mitos ini di percaya agar dagu bayi dapat membelah , padahal tidak berpengaruh sekali .
•ASI pertama yang berwarna kekuningan merupakan ASI yang sudah basi dan tidak baik dikonsumsi bayi
ASI pertama adalah kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh dan kaya akan protein . Warna dan penampilan ASI putih keruh serta encer sering pula diasumsikan sebagai ASI kualitas jelek . Warna dan kejernihan ASI sangat tergantung bahan nutrien yang terkandung di dalamnya .
Daftar Pustaka :
•http://wanipintar.blogspot.com/2009/06/aspek-sosial-budaya-dasar-pada-bayi.html
Diunduh pada tanggal 14 Oktober 2010
•http://baca-dulu-ah.blogspot.com/2009/10/mitos-bayi-baru-lahir.html
Diunduh pada tanggal 14 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)